Karsinoma sel basal tipe infiltratif pada kulit kepala: tindak lanjut lima bulan pasca-eksisi dengan rekonstruksi z-plasty
DOI:
https://doi.org/10.52830/inajcc.v4i3.113Kata Kunci:
Karsinoma Sel Basal, Trauma Kronis, Kekambuhan, Kulit Kepala, Neoplasma KulitAbstrak
Pendahuluan: Karsinoma sel basal (KSB) merupakan kanker kulit non-melanoma yang paling sering ditemukan, mencakup 75–80% dari seluruh kasus. Meskipun umumnya tumbuh lambat dan jarang bermetastasis, beberapa varian histologis seperti KSB tipe infiltratif dapat menunjukkan perilaku lokal yang lebih agresif serta memiliki risiko kekambuhan yang tinggi. Selain berhubungan dengan pajanan ultraviolet jangka panjang, KSB juga dapat timbul akibat faktor risiko non-tradisional seperti trauma kronis.
Ilustrasi Kasus: Kami melaporkan kasus KSB infiltratif pada kulit kepala seorang dokter laki-laki berusia 48 tahun dengan riwayat trauma kronis. Lesi berkembang selama tiga tahun, awalnya berupa papul eritematosa pruritik berukuran 0,5 cm yang kemudian membesar menjadi nodul ulseratif berdiameter 2,2 cm. Dilakukan eksisi luas dengan rekonstruksi Z-plasty. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan sarang sel basaloid yang menginfiltrasi dermis dengan stroma fibrotik, sesuai dengan subtipe infiltratif. Lima bulan pascaoperasi, area operasi menunjukkan proses penyembuhan, namun muncul papul eritematosa baru yang menimbulkan kecurigaan terjadinya kekambuhan.
Pembahasan: Kasus ini menyoroti presentasi tidak lazim dari KSB pada area yang tidak terpajan sinar matahari, yang kemungkinan dipicu oleh iritasi mekanis kronis. KSB infiltratif ditandai oleh ekstensi subklinis dan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi. Perubahan halus pada area pascaoperasi dapat menjadi tanda awal kekambuhan, sehingga diperlukan pemantauan jangka panjang yang ketat. Pemeriksaan klinis, dermoskopi, dan konfirmasi histopatologi sangat penting untuk deteksi dini dan penatalaksanaan yang optimal.
Kesimpulan: KSB infiltratif dapat muncul pada lokasi atipikal dan menunjukkan perilaku agresif meskipun telah mendapatkan terapi awal. Deteksi dini dan tindak lanjut multidisipliner merupakan kunci untuk mengoptimalkan luaran klinis serta mencegah kekambuhan.
Unduhan
Diterbitkan
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Sherly Dermawan, Alida Widiawaty

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




